Microsoft Tanam ‘Pohon Server’

Ardhi Suryadhi – detikinet

Jakarta – Setelah diluncurkan bulan lalu di Amerika Serikat oleh CEO Microsoft Steve Ballmer, teknologi server teranyar Microsoft Hyper V dan System Center Virtual Machine Manager hadir di Indonesia.

Bersamaan dengan diluncurkannya kedua teknologi tersebut, Microsoft juga meluncurkan program My Green Server bersama Yayasan KEHATI. Di mana untuk setiap penjualan 1 unit Windows Server 2008, perusahaan milik Bill Gates ini akan mengkonversikannya dengan penanaman 1 buah pohon di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

PR Manajer Microsoft Indonesia Mona Monika mengatakan, program ini hanya akan berlangsung hingga Juni 2009. “Jadi nantinya, kita hanya akan mengirimkan dana ke Yayasan KEHATI, nanti mereka yang akan melakukan penanaman,” imbuhnya.

Laporan penjualan Windows Server 2008 akan diberikan per 3 bulan. “Misalkan dalam kurun waktu tersebut ada 1000 server yang terjual, maka akan dikonversikan dalam bentuk penanaman satu pohon. Pemilihan pohonnya sendiri diserahkan ke mereka (Yayasan KEHATI-red.), bisa terbagi atas mangrove dan tanaman yang bisa dikonsumsi,” tukas Mona kepada detikINET.

Pemilihan kawasan Brebes didasarkan karena melihat makin parahnya kondisi kawasan pantai di wilayah tersebut. Kawasan Pandansari di kabupaten Brebes misalnya, dalam 20 tahun terakhir telah kehilangan sekitar 800 ha kawasan pantainya.

Hilangnya kawasan pantai Brebes ini adalah akibat rusaknya ekosistem hutan bakau. Padahal pada 1986 silam, kawasan ini pernah menerima penghargaan dari propinsi Jawa Tengah sebagai daerah sabuk hijau yang dikelilingi oleh hutan bakau.

( ash / fyk )

Penyakit Tanaman Hias

Penyakit yang menyerang tanaman hias pada umumnya disebabkan oleh dua penyebab utama yaitu jamur dan bakteri. Serangan jamur lebih sering dijumpai daripada serangan bakteri. Jamur berkembang biak dan memperoleh makanan dari tanaman. Mereka mudah memperbanyak diri dengan miselium dan spora. Pencegahan serangan penyakit bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan tumbuh tanaman, media tanam yang steril dengan PH yang tepat, menjauhkan tanaman yang terserang penyakit dari tanaman yang sehat serta penyemprotan fungisida/bakterisida secara bekala.

Berikut adalah beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman hias :

1. Busuk Akar

Busuk akar disebabkan oleh serangan jamur Phytium.Sp. Busuk akar terjadi karena media tanam terlalu basah dan berkelembaban tinggi. Air yang terlalu lama menggenang menyebabkan media menjadi becek dan dalam waktu singkat menyebabkan akar menjadi busuk, daun menjadi pucat, layu lalu busuk.

Pencegahan yang paling penting adalah dengan menggunakan media tanam yang porous, steril dan menjaga agar media tidak terlalu lembab dan basah berlebihan. Namun apabila serangan sudah terjadi, maka segera bongkar media, buang akar yang terserang, lalu oleskan/spray fungisida seperti Dythane atau Antracol. Lalu tanam kembali kedalam media baru yang porous dan steril.

Pencegahan dan penanganan tanaman yang terserang busuk akar bisa pula dilakukan dengan penyemprotan fungisida sistemik seperti Previcur N dengan dosis 2 ml/Liter.

2. Layu Fusarium

Layu Fusarium disebabkan oleh jamur Fusarium Oxysporium. Layu Fusarium terjadi karena media tanaman terlalu masam dan basah/lembab berlebihan. Gejala serangan ditandai dengan memucatnya tulang daun sampai berubah menjadi coklat keabu-abuan, kemudian diikuti dengan menunduknya tangkai yang membusuk. Apabila perbatasan antara akar dan batang dipotong, maka akan terlihat cincin cokelat kehitaman diikuti busuk basah pada berkas pembuluh.

Pencegahan yang perlu dilakukan adalah dengan cara mencegah media tanam basah/becek terlalu berlebihan. Namun apabila serangan sudah terjadi, maka gunakan fungisida Derosal 500 SC dosis 2 ml/Liter, atau Delsane dosis 2 Gr/Liter, atau Folicur 25 WP dosis 2 Gr/Liter. Apabila serangan sudah cukup parah, maka sebaiknya terapi fungisida diikuti dengan penggantian media tanam yang steril.

3. Layu Bakteri

Layu bakteri disebabkan oleh bakteri Erwinia Coratovora. Bakteri ganas yang mampu merusak tanaman dalam waktu singkat. Serangan layu bakteri ditandai dengan melunaknya daun dan batang, seperti habis terkena air panas, berwarna cokelat dan mengeluarkan bau yang busuk, karena terjadi kerusakan jaringan tanaman. Bagian tanaman yang terserang akan mengeluarkan lendir putih, kental dan lengket.

Pencegahan yang harus dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan tanaman, hindari kelembaban yang terlalu berlebihan dan jangan sampai membiarkan media terlalu basah dalam waktu lama. Apabila serangan telah terjadi, maka hal paling awal yang harus dilakukan adalah membuang bagian tanaman yang terserang lalu dibakar, agar tidak menular kepada tanaman yang sehat. Jauhkan tanaman yang terserang dari tanaman yang sehat. Lalu semprot tanaman dengan bakterisida Agrept dosis 2 gr/Liter pada seluruh bagian tanaman. Untuk lebih memastikan efektifitas treatmen yang kita lakukan, maka sebaiknya segera ganti media tanam dan pot dengan yang baru dan steril.

Untuk serangan yang cukup serius, maka gunakan Agrept dosis 2gr/Liter dicampur dengan fungisida Folicur 250 EC dosis 2ml/Liter. Bahkan beberapa hobiis menggunakan cara mencabut tanaman dari media, dicuci bersih lalu direndam dalam larutan tadi sampai 1 jam.

4. Bercak Daun

Bercak daun disebabkan oleh jamur Botrytis Sp. Cirinya adalah munculnya bercak di daun. Bercak tersebut langsung menyambung dengan warna asli daun yang sehat. Bercak tersebut lama kelamaan akan membusuk.

Seperti pada penyakit tanaman lainnya, maka cara pencegahan yang bisa dilakukan adalah menjaga kebersihan lingkungan serta menjaga agar media tanam tidak basah secara berlebihan.

Apabila serangan sudah terjadi, maka buang bagian tanaman yang terserang, lalu lakukan penyemprotan fungisida Sistemik macam Folicur 25 WP dosis 2 gr/Liter atau Folicur 250 EC dosis 2 ml/Liter.

5. Antraknosa

Penyebabnya adalah jamur Colletotrichum Gloesporioides yang mula-mula menyerang seludang bunga dengan gejala munculnya bercak kecoklatan. Pada lingkungan dengan kelembaban tinggi, bercak tersebut semakin meluas, tampak seperti berair dan mengalami kerusakan atau nekrosis. Jika dibiarkan, penyakit akan menjadi semakin parah yang pada akhirnya bisa menyebabkan kematian.

Apabila serangan sudah terjadi, maka perlu dilakukan penyemprotan fungisida seperti Dythane 2 Gr/Liter atau Folicur 250 EC dosis 2 ml/Liter.

6. Bercak Kuning

Bercak kuning sering menyerang Anthurium dan telah menjadi momok yang menakutkan bagi pekebun dan hobiis. Anthurium yang terserang penyakit bercak kuning umumnya sulit disembuhkan, karena penyakit ini sangat cepat menyebar ke seluruh tanaman.

Mula-mula muncul noktah kecil berwarna kuning pada daun yang semakin lama semakin lebar, hingga seluruh permukaan daun anthurium tertutup warna kuning. Setelah satu daun terserang, maka daun-daun yang lain tinggal menunggu giliran, sampai semua kuning dan akhirnya tidak bisa diselamatkan.

Sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti penyebab penyakit ini. Para hobiis menganggap penyakit ini bersifat multifactor seperti media terlalu lembab, aliran udara tidak lancar, komposisi media kurang tepat dan kelebihan pupuk kandang.

Meski belum pasti disebabkan oleh jamur, tetapi pengendalian dengan menggunakan fungisida patut dicoba. Cara paling ekstrim yang bisa dilakukan adalah menggunduli semua daun tanaman yang terserang, lalu semprot dengan larutan fungisida. Anakan yang muncul nantinya diharapkan akan menjadi tanaman yang sehat.

Demikian beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman hias. Karena umumnya serangan penyakit ini disebabkan oleh lingkungan tanaman yang kurang bersih serta media tanam yang becek dan kurang steril, maka tindakan pencegahan dengan menjaga lingkungan tanaman yang bersih dan sehat, memperhatikan sirkulasi udara disekitar tanaman serta menggunakan media tanam yang porous dan tidak becek berlebihan, selayaknya diperhatikan. Semoga membantu.

Sumber :

1. Trubus Infokit, Aglaonema – Trubus

2. Trubus Infokit, Adenium – Trubus

3. Mengenal dan Merawat Anthurium Daun, Hendra Tanjung & Drs. Agus Andoko – Agromedia Pustaka

Pemilik/penulis: Emirsyah Narendra

Menghadapi Musim Hujan

Bagi para pencinta dan kolektor tanaman hias khususnya Adenium, dengan datangnya musim penghujan berarti akan menambah pekerjaan. Hal ini dikarenakan dengan curah hujan yang terlalu banyak bisa menimbulkan masalah busuk akar.

Memang bagi kalangan tertentu

, hal ini tidak menjadi persoalan, karena mereka memakai plastik UV untuk menutupi areal kebun koleksinya, namun bagi kebanyakan orang tentu akan merepotkan.

Ada beberapa tip yang saya d

apatkan dari saudara-saudara saya di millis indoadenium (mohon MAAF tidak disebutkan semuanya), diantaranya Om Hartono. Beliau menganjurkan bahwa bagi yang tidak menggunakan plastik UV, mulai periksa med

ia tanam, kalau sudah terlalu keras dan padat mending diganti dari sekarang, toh musim hujan baru dimulai bulan Oktober ( kalau normal ). Di musim kemarau seperti sekarang bukan berarti tidak ada hujan sama sekali lho!

Pencegahan yang perlu dilakukan selama musim hujan adalah sbb :

§ Tabur media dengan kapur pe

rtanian ( dolomit ) untung mengurangi keasaman PH tanah.

§ Periksa lubang drainase pot, pastikan sisa air bisa cepat terbuang habis setelah disiram atau setelah hujan, tambahkan lubang pot bila perlu.

§ Kocor dan semprot secara berka

la 1-2 bulan sekali dengan insektisida, fungisida, dan bakterisida secara bergilir (pakai dosis minimal kalau tidak ada serangan hama dan penyakit cair = 1 cc / lt air, bubuk = 1 gr / lt air)

§ Taburkan furadan pada media t

anam, biasanya banyak cacing saat musim hujan.

§ Pupuk seperti biasanya.

§ Siram menurut kebutuhan ( cukup basah tapi tidak menggenang )

§ Bagian terpenting adala

h penyiangan dan pengamatan, semakin cepat diketahui dan diobati semakin mudah pengendalian hama dan penyakit.

Demikian prosedur diterapkan dikebun Om Hartono, beberapa  diadopsi dari pekebun Thailand.

Selama ini hasilnya bisa mengurangi tingkat kebusukan secara signifikan, tetapi tentu saja tidak menghilangkan resiko busuk 100%.